MissionDetection – Warga yang mengungsi di Desa Mekandetung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kini bergantung pada air hujan sebagai sumber utama untuk memenuhi kebutuhan harian mereka setelah gempa berkekuatan 7,7 magnitudo yang terjadi pada 15 Agustus lalu. Pasca bencana, air hujan menjadi sumber vital, sementara ketika hujan berhenti, mereka harus kembali mengandalkan pasokan dari mobil tangki.
Dalam kunjungannya pada 23 Agustus, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mendengarkan keluhan warga mengenai kurangnya pasokan air bersih. “Kami sangat membutuhkan air, apalagi kami tinggal di bukit,” ungkap Kristina Potut, salah satu pengungsi. Di Mekandetung, terdapat 17 titik pengungsian yang menampung 495 kepala keluarga atau lebih dari 900 jiwa. Dari jumlah tersebut, ada sejumlah bayi, lansia, dan penyandang disabilitas yang memerlukan perhatian ekstra.
Johni berjanji untuk segera mengirimkan dua tangki air ke setiap titik pengungsian yang membutuhkan. Selain itu, ia juga mengingatkan pemerintah kecamatan dan desa untuk terus melakukan pendataan kebutuhan warga agar bantuan dapat disalurkan secara tepat waktu dan sesuai kebutuhan.
Selain kekurangan air bersih, warga juga mengeluhkan menurunnya pasokan makanan dan dampak psikologis akibat gempa. Sekretaris Camat Kangae, Cristiniati Baga, menyatakan bahwa sejumlah infrastruktur, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan, mengalami kerusakan signifikan.
Distribusi bantuan juga tersendat akibat kerusakan infrastruktur yang mempengaruhi aksesibilitas, terutama ke daerah terpencil. Johni meminta warga untuk bersabar, mengingat masih banyak yang belum terjangkau bantuan akibat kondisi jalan yang rusak parah. Kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan kini menjadi prioritas yang mendesak bagi pengungsi di Mekandetung.

