News

Kearifan Lokal Jadi Solusi Krisis Iklim Dalam Rangka BRICS

MissionDetection – Lima negara besar yang tergabung dalam BRICS, yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dipandang mampu memperkuat tata kelola lingkungan hidup global. Hal ini disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jumhur Hidayat, dalam pertemuan Menteri Lingkungan negara-negara BRICS di New Delhi, India, pada 18 Agustus 2026. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sepuluh dari sebelas negara anggota dan menyoroti pentingnya keterlibatan kearifan lokal dalam mengatasi tantangan lingkungan dan perubahan iklim yang semakin kompleks.

Dalam sesi pembukaan, Menteri Lingkungan, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India, Shri Bhupender Yadav, memberikan sambutan yang diikuti oleh pemaparan Jumhur mengenai pengelolaan lingkungan. Dia mengungkapkan keprihatinan terhadap negara-negara maju dengan kapasitas ekonomi besar yang mulai mengabaikan tanggung jawab kolektif dalam mengatasi isu polusi dan perubahan iklim, sementara mereka masih berkontribusi signifikan terhadap emisi global.

Jumhur menekankan bahwa keberlanjutan pembangunan sangat bergantung pada pengelolaan sumber daya alam yang baik. Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, yang menjadi dasar bagi ekosistem yang sehat dan ekonomi berkelanjutan. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terlengkap di dunia, menyimpan lebih dari 300 ribu spesies, baik flora maupun fauna.

Di sisi lain, ancaman perubahan iklim juga dirasakan oleh Indonesia sebagai negara kepulauan, di mana lebih dari 60 persen penduduknya tinggal di wilayah pesisir yang sangat rentan. Jumhur menegaskan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya ancaman di masa depan, tetapi sudah menghambat pembangunan dan mendorong masyarakat rentan ke dalam kemiskinan. Oleh karena itu, langkah adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi prioritas dalam agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia, diberi arahan oleh Rencana Adaptasi Nasional 2026–2030.